Bolang Gayo

Warung Makan Wong Bies



Warung makan yang terletak tepat depan Rumah Sakit Datu Beru, kota Takengon Kab. Aceh Tengah ini, tepatnya di depan pintu keluar dari RS tersebut. Pun merupakan salah satu warung makan langganan saya, selain harganya yang pas dengan kantong kelas petani semacam saya, untuk rasa tak bisa di remehkan, karna selain rasa yang mantap pun banyak pilihan dari ayam-ayaman, daging , ikan air dan aneka kuah sampe sayur bening. Tambah satu lagi kamu bisa menikmati kopinya, tapi ya... untuk kopi susu jelas jauh jika di bandingkan dengan Warung Makan Fajhar yang pernah saya tulis itu. Namun masih tetap nikmat kok.

 Dari segi nama warung saja sudah jelas, darimana pemilik berada, ada kata " Wong " dalam bahasa jawa yang jika dalam bahasa Indonesia berarti orang, sudah jelas milik orang yang juga pernah atau masih alamatkan asli  daerah Bies, mungkin begitu filosofinya walaupun saya sama sekali belum pernah menanyakan perihal hal tersebut.

 Selain makanan enak nan murah pemilik dan pekerja warung tersebut juga sangat ramah. Terbukti setiap pelanggan datang entah itu baru atau yang lama tetap di sapa dengan baik, pun terkadang di ajak bercanda seakan sudah kenal begitu lama. Saya merasa tak ada bedanya antara pelanggan baru dan lama, sama-sama di sapa dengan kadar yang sama pula.

 Perkenalan saya dengan warung makan ini adalah ketika tetangga saya sakit sekitar 2 tahun lalu, dan sampe sekarang jika saya menjenguk saudara atau tetangga, sudah pasti warung makan Wong Bies juga tak luput jadi tempat makan favorit saya yang kantongnya hanya tipis tipis manis ini.

Bahkan sesekali saya juga mengajak calon istri untuk makan di sana, walaupun tak seromantis di cafe, namun tetap saja kenyang, tak seperti di cafe yang romantis tapi nasinya dikit jadi masih tetap lapar hehe..

 Jadi begitulah sedikit tentang Warung makan wong Bies yang nampak sederhana dari luar tapi punya banyak pilihan menu makanan, pokoknya cocok untuk kamu yang sedang merasa lapar untuk singgah disini.

 Eh ya sekarang juga sudah ada tempat khusus ngopi di sertai beberapa macam camilan seperti tempe goreng dan pisang goreng juga teman-teman lainnya sesama produk gorengan.

Learn more »

Nasi Gurih


Nasi Gurih ( krupuk saya tambah sendiri )


10.000 ribu harganya, itulah hal yang selalu paling melekat di benak para penikmat sarapan ala pengunjung/penjaga sanak saudara yang kebetulan di beri cobaan berupa sakit di rumah sakit Datu Beru, Takegon, Aceh Tengah. Nasi Gurih namanya. Bukan hanya penjenguk atau pengunjung Rs.Datu beru saja, beberapa mahasiswa dan kaum buruh kota yang saya kenal juga bercerita, bahwa nasi gurih adalah menu yang mantap, enak dan ramah kantong pastinya.

Berlokasikan di depan pintu masuk Rs. DATU BERU, biasanya waktu berjualan hanya di pagi hari saja, sedangkan untuk siang, sore dan malam yang di jajakan sama halnya dengan warung makan lainnya. Beberapa pedagang juga sering kali masuk kerumah sakit secara ilegal ( menggendong barang dagadangan ) , kenapa saya bilang ilegal ?, karna seringkali saya mendengar pengumuman bahwa tak boleh ada yang berdagang di lingkungan RS. Entah itu pegawai, pengunjung, atau siapapun. Begitu kira-kira yang sering saya dengar ketika berkunjung untuk menjenguk saudara/tetangga yang sedang sakit.

Namun, kedatangan para pedagang nasi gurih memberikan kemudahan tersendiri bagi pengunjung/penjenguk di rumah sakit, karna dengan datangnya mereka maka, jelas lebih simple dan praktis untuk mendapatkan Nasi Gurih yang selalu saya rindukan kenikmatannya itu. Kau boleh saja beli makanan semahal harga supra X, tapi urusan lidah dan kenikmatan seseorang jelas saja akan selalu berbeda tarafnya.

Takengon ( Aceh Tengah ) memang merupakan salah satu kabupaten di Aceh, pun kita semua tau bahwa Aceh adalah provinsi paling barat di Indonesia, jelas jauh dari jawa dan hiruk pikuknya Ibukota jakarta sebagai pusat Ekonomi Negri ini, namun untuk urusan harga makanan pokok, warung makan, dan semua yang mengenyangkan jelas tak lebih mahal dari Ibu Kota yang riuh dengan macet itu. Kalian akan kesulitan menemukan Nasi + kacang + buncis + sambal rendang ( atau apalah itu yang aromanya nikmat sekali ) + sepotong ayam yang bernamakan Nasi Gurih dengan harga ramah saku di Ibu dari Ibunya Kota.

Nasi Gurih depan RS. Datu Beru, bisa di pesan dengan piring atau di bungkus, namun saya lebih suka dengan di bungkus, karna menurut pengamatan lidah amatir saya, ketika Nasi Gurih di bungkus maka, rasa yang menempel dilidah akan lebih mengena, terlepas dari tak bisa duduk santai sembari ngopi pastinya.

Nasi Gurih memang Gurih, jujur sejujur namanya. Jadi jika suatu saat kamu datang ke-kota dingin Takengon, kota dengan keindahan dataran tingginya, kota yang memukau dengan danau Lut Tawarnya, Kota yang sering saya pamerkan pada teman-teman sekaloh di jawa sana bahwa " jika kau mencari surganya kopi, jangan cari di tempat lain, karna kota inilah surganya " , Maka sempatkanlah untuk mencoba Nasi Gurih yang murah dan punya rasa Magis tersendiri. Tak percaya, tak apa.. coba saja.
Learn more »

Masih Tentang Kopi Susu WR Fajar



Warung Makan Fajar Tampak dari luar




Untuk kali kedua saya akan menuliskan tentang warung makan fajar dan kopi susunya. Sungguh untuk postingan tentang warung makan satu ini tidak ada bentuk sponsor atau  kerja sama atau sejenisnya, hanya saja memang warung makan fajar adalah warung yang selalu membuat saya ingin kembali menikmati kopi susu yang aduh legitnya.

Jika berbicara soal makanan, saya rasa warung makan fajar bisa di katakan setara dengan warung makan - warung makan di kota Takengon pada umumnya, nikmat dan murah pastinya. Di kota Takengon ( ibukota dari kabupaten Aceh Tengah yang termasuk dalam dataran Tinngi Gayo ) kisaran harga makanan nasi dengan lauk ayam adalah 10 - 15 ribu, pun dengan sayuran yang terserah mau kita apa tinggal pilih, serta nasi yang banyak bertumpuk di piring atau beberapa warung makan bahkan mempersilahkan mengambil sendiri.

Namun untuk urusan kopi, saya rasa kopi susu di warung makan Fajar adalah Rajanya ( menurut lidah saya ). Rasa legit dan kentalnya susu membuat saya tak bosan-bosan untuk selalu kembali datang kesana, bisa jadi karna petualangan kopi di tanah Gayo ini belum saya lalui semua atau memang kopi susu wi warung makan fajarlah raja dari segala raja kopi susu.

Kopi susu WM Fajar

Soal kuliner Kita semua tau, beda lidah beda pula pendapat tentang apa yang di rasa, begitu pula pendapat saya tentang kopi susu yang berada di Warung Makan Fajar ini.

Takengon dan dataran tinggi Gayo kita semua tau, bahwa disinilah surganya kopi, dari yang kelas bawah, menengah sampai elitpun ada dan semuanya bisa di jangkau dengan kantong. Karna eh karna dataran tinggi Gayo adalah penghasil kopi dan memiliki perkebunan kopi terluas di Indonesia, maka jangan heran jika di daerah lain kopi dengan harga percangkirnya sampai ratusan ribu, disini bisa jadi hanya 15 ribu saja.

Warung Makan Fajar tampak dari dalam

Mungkin sudah lebih dari 10 kali saya merasakan nikmatnya kopi susu di warung makan Fajar, warung makan yang terletak di jalan pasar impres ini, pun dengan kenikmatan kopi-kopi di tempat lain yang belum saya ceritakan, pada Intinya jika kamu pegen ngopi dengan rasa nikmat dan murah pula, maka saran saya datanglah ke Dataran Tinggi Gayo, sembari melihat keindahan dataran tinggi dan merasakan dinginnya yang romantis itu.
" Jadi sudah buat list liburan kamu ke Gayo belum ? , jika belum maka segeralah di buat :) "
Learn more »

Tradisi Bakar-Bakar ayam di Momen Hari Besar di Gayo




Di dataran tinggi Gayo, bakar Ayam, ikan, atau sekedar makan-makan di tempat wisata seakan sudah menjadi sebuah tradisi di hari besar Islam seperti Idul Fitri atau Idul Adha. Hari besar merupakan hari berlibur dan berkumpulnya keluarga atau sekedar kumpul bersama teman-teman agar sejenak menghilangkan penat yang di jalani selama ini.


sepanjang jalan dan tempat-tempat wisata terutama seperti danau Lut Tawar dan sungai-sungai di penuhi oleh sekumpulan kaluarga atau hanya kumpul bersama teman-teman saja untuk berbagi cerita dan menambahkan sebuah cerita pastinya. Ya cerita liburan sembari makan-makan dan bakaran ayam.

Liburan semacam ini tak memandang kelas sosial dari yang kelas bawah sampai kelas atas semuanya melakukan hal yang sama, yang membedakan adalah naik supra dan naik Avanza, pun jumlah yang ayam yang di bakar satu untuk semua dan semua dapat satu-satu. Mungkin hanya itu, tapi soal kebahagiaan saya rasa semuanya sama, tergantung siapa yang merasakan dan kondisi hati tentunya.
Untuk hari raya Idul Adha tahun ini, saya dan teman-teman melakukan hal yang beda, saya tak ingin setiap perjalanan akan berakhir di tempat yang sama dengan kisah yang sama pula. Makanya saya memutuskan untuk mencari tempat baru, sebenarnya tempat tersebut sudah tak asing lagi kami, karna hampir setiap hari Jum’at saya dan teman-teman selalu meng-Otewe-kan diri berangkat mancing di tempat tersebut.


Jika biasanya saya / kami melakukan bakar ayam di tempat yang ramai, maka kali ini kami melakukannya di tempat yang sepi, terkadang ramai jika kumpulan kerbau dan sapi lewat. Sebuah sungai yang berada di sekitar hutan pinus desa Gading, kecamatan Linge, menjadi tujuan bakar ayam di Idul Adha tahun ini.


Selain itu tempatnya juga tak jauh dari desa kami, hanya perjalanan sekitar 15 – 20 menit saja, soal pemandangan jangan di tanya lagi, bukit, kabut dan pohon pinus menjadi keunggulan dan kenyamanan buat siapa saja yang melewatinya, karna katanya “ jika kamu sedang galau maka... berdiamlah di bawah pohon maka kamu akan merasakan kenyamanan “.  bagaimana tak nyaman ?... kami saja selalu berada di bawah pohon setiap perjalanan.

Hanya satu yang menjadi kedala, banyak pacet ( lintah penghisap darah ) itu yang kami temui sewaktu mancing, pun kami temui saat bakar-bakar ayam kemaren, sungguh geli dan menakutkan.
Jadi, kira-kira seperti itulah ceritanya, lain kali saya akan ceritakan lebih panjang jika tak lupa. Dan soal membuat api disamping sungai yang sudah hidup namun hujan tiba-tiba saja turun bisa di baca di rubrik #Otewe-nya www.petanikopi.com

Fans Page : Bolang Gayo

Instagram : @bolanggayo
Learn more »

Ngopi Lagi di SImpang Air Asin



 Beberapa waktu lalu saya pernah menuliskan tentang ngopi di pertigaan air asin, pertiagaan yang membuat saya dan teman-teman selalu rindu dengan suasana nyamannya,2 suasana yang di bungkus dengan kabut dan di kelilingi oleh pohon pinus.

Tak ada yang begitu istimewa sebenarnya dari kopi disana, malah jika di bandingkan kopi racikan sendiri di rumah jelas beda rasa beda harga pula, namun kopi bukan hanya tentang rasa saja, ada suasana yang tak bisa di banding - bandingkan hanya dengan rasa kopi saja, terlebih dengan adanya camilan tape, Iya tape ubi yang rasanya asam itu. Setidaknya tape menambah kenikmatan dan menjadi ciri khas ngopi di simpang air asin itu, walaupun hanya kopi hitam biasa atau hanya sekedar top kopi yang di bintangi oleh om Iwan Fals nan terkenal dan legend itu, sungguh nikmat dan nyamannya tak tertolak oleh suasana.



Simpang air asin sebenarnya hanya ada beberapa rumah ( kedai ) sebelum sampai isaq pusat kecamatan linge bila arah dari kota Takengon Aceh Tengah, namun aura untuk menginjak-kan rem serasa wajib hukumnya dan pastinya meminta di buatkan kopi nan murah meriah namun nikmat rasanya itu serasa tak boleh di tinggalkan oleh siapa saja yang berhenti disana.

Apalagi saat hujan atau gerimis rintik-rintik nan romantis, sungguh aura yang pas dan tepat untuk bisa berbagi cerita, yah walaupun hanya dengan teman-teman saja sudah bisa merasakan betapa nikmatnya ngobrol sambil ngopi plus melihat pemandangan yang indah di sekeliling, apalagi bila bersama kekasih bahkan keluarga sungguh " Nikmat mana lagi yang kau dustakan ? " .



Mungkin cerita saya ini agak sedikit berlebihan atau bisa jadi anda yang membaca ini akan bilang " ah lebay ini orang " cobalah datang kesimpang air asin, mintalah segelas kopi dan satu hal lagi yang wajib anda bawa adalah teman atau pasangan atau keluarga yang asik di ajak cerita. Niscaya anda akan berkata " karna cerita dan ngopi asik di simpang air asin itu adalah hak segala bangsa " .

" dengan teman-teman saja aku bahagia, apalagi bersamamu dek, haduh... "

Sekian dan terimakasih.


Sekian dan terimakasih.
Learn more »

Merah Jernang Desa 1880 MDPL


Bicara tentang desa yang satu ini sudah pasti saya hafal benar, karna memang alamat yang berada di KTP saya juga bertuliskan desa merah Jernang. Desa yang di buka pada masa akhir orde Baru ini, mayoritas adalah pendatang Transmigrasi tepatnya di tahun 1997.


Sebuah desa baru pecahan dari desa Tanoh Abu, kecamatan Atulintang, kabupaten Aceh Tengah, merupakan desa yang berada pada ketinggian 1880 meter di atas permukaan laut / MDPL ( jika tak salah hitung ), coba bayangkan desa yang berada di ketinggian seperti itu, sudah pasti dingin dan selalu tertutup oleh kabut, terutama di pagi hari.


Entah benar tau tidak, bisa jadi desa merah jernang adalah desa dengan tumbuhan kopi Gayo dengan lokasi tertinggi. Desa yang mayoritas di isi oleh petani kopi, walaupun sebagian mulai sambil menanam tanaman muda semacam kentang, cabai dan sayur mayur lainnya.

Soal keindahan, sudah dataran tinggi Gayo sebelah mana yang tak Indah buat selfi dan Instragam eble ? apalagi desa Merah Jernang yang ketinggiannya sampai 1880, sudah pasti sangatlah indah dan tiada duanya, mungkin jika posisinya berada di pulau jawa, semisal berada di kabupaten Wonosobo yang gencar dengan membangun bukit-bukit untuk area Wisata, bisa jadi desa Merah Jernang adalah sasaran termanis untuk di buat tempat pariwisata.


Namuan di balik kelebihan pastilah ada sebuah kekurangan, dan saya tak bisa menayalahkan semuanya hanya dengan kacamata pengamatan abal-abal saya, karna oh karna semuanya itu tak mudah, seperti saya misalnya yang tak bisa berbuat banyak hanya bisa mengenalkan beberapa titik terindah di dataran Tinggi Gayo hanya dengan sebuah Tulisan dan semoga ada manfaatnya. Untuk masalah pembangunan kita serahkan kepercayaan pada yang berwenang saja, bagaimana baik buruknya dengan pertimbangan yang ada.



 Pun begitu kampung Merah Jernang yang potensial dari segi keindahan bagi para pelancong, ya terutama dataran Tinggi Gayo pastinya. Semua sudah ada jalurnya masing-masing, saya bagian menulis dan memberi masukan dan yang lainnya memberikan pertimbangan baik buruknya tentang pembangunan sebuah pariwisata. Begitulah hidup selalu ada kelebihan dan kekurangan pastinya.



Learn more »

Mancing Liar adalah petualangan yang sesungguhnya

Tansaril 

Mancing adalah salah satu hobi saya, pun mincing kini menjadi agenda yang selalu menjadi idola dikalangan teman-teman saya, selain menjadi ajang hobi, mincing juga sebagai sarana untuk mengenal daerah yang sebelumnya tidak saya tau, atau tau namanya tapi belum sampai di tempat tujuannya. Dengan mincing saya banyak menemukan daerah baru, pemandangan baru dan yang pasti cerita petualangan baru.

Agro

Walaupun di dataran tinggi Gayo terutama tempat saya tinggal di seputaran Takengon, untuk mancing memang tak semudah di daerah Sumatra lain, semisal Riau, Palembang apalagi di wilayah Kalimantan yang konon menurut cerita dari teman-teman saya adalah surganya mancing mania.

Danau Lut Tawar

Namun jangan salah di dataran tinggi Gayo khususnya Acceh tengah, memiliki danau nan luas dan Indah, dan yang pasti banyak ikannya, ah tak usah saya ceritakan tentang danau satu ini karna sudah sering saya tuliskan, mana lagi kalau bukan danau Lut Tawar, beberapa ikan favorit untuk para pemancing adalah Peres, Bawal dan Nila. Yah walaupun jika hanya sekedar narik ikan saja sangat mudah tinggal mata pancing ganti dengan yang nomor satu maka sejenis kepras, nila kecil depik ( ikan yang katanya hanya ada di dataran tinggi gayo dan menjadi favorit masyarakat serta harganya yang mahal ) sangat banyak di pinggiran-pinggiran danau.

Ikan Bontok

Selain danau lut tawar untuk mancing yang mantap dengan pemandangan tiada duanya saya biasa menelusuri suangai di sepanjang jalan Isaq kecamatan Linge, memang sulit di dapat ikannya, tapi ya… soal pemandangan tak ada duanya, diapit oleh pohon pinus yang konon merupakan peninggalan belanda, eh ya sekarang pohon pinus juga mulai terawat karna getahnya mulai di gunakanakan dan di jual jadi ya sedikit banyaknya menambah keindahan karna lokasi menjadi lebih bersih.

Jadi buat kamu yang suka traveling dan kebetulan suka mancing, jika tujuannya adalah kedataran tinggi Gayo, maka jangan takut tak bisa mancing, Gayo selalu punya tempat untuk kamu yang hobi mancing, terlebih jika hobimu mancing di kolam, banyak kok disini. Dan yang pasti kamu bisa ngopi sepuasnya di dataran tinggi Gayo ini, dari kopi susu sampai kopi ala café.


Jalan Arah Pantan nangka


Follow dan like @bolanggayo




Learn more »

Akhirnya sampai juga di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh




Jika ada sebuah tempat yang harus Anda kunjungi saat bertandang ke Banda Aceh, itu adalah Masjid Raya Baiturrahman. Inilah situs bersejarah yang telah ada sejak era kejayaan Kesultanan Aceh dan bertahan hingga saat ini. Masjid ini telah melalui berbagai hal, mulai dari tragedi pembakaran oleh kolonial Belanda tahun 1873 hingga hantaman tsunami di akhir 2004. ( indonesiakaya.com )



Setelah melalui proses pengerjaaan renovasi sejak 2015, kini Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh telah diresmikan. Perubahan pada bangunan masjid di antaranya adalah berdirinya 12 unit payung elektrik, lantai marmer, tempat wudhu, lokasi parkir bawah tanah, hiasan lampu, serta kehadiran tiga puluh lebih pohon kurma. Perombakan ini sendiri diharapkan menjadikan Masjid Raya Baiturrahman tak sebatas sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat kajian Islam di Aceh dan Indonesia. ( tribunnews.com ).

Dan untuk pertama kalinya pula saya bisa sampai disana, serta menampakan kaki di kota Banda Aceh, kota yang penuh sejarah tentang kerajaan Islam, serta kota yang pernah di lalah luntuhkan oleh ombak Tsunami pada saat saya masih duduk di baku sekolah menangah pertama ( smp ) *ah jadi ingat umur hehe.



Agenda rutin tahunanlah yang membuat saya bisa sampai di kota Banda Aceh, ya agenda rutin Ziarah sebelum memasuki bulan puasa yang di lakukan oleh kampung saya.

Sedari kecil sudah terbesit ingin sekali sampai di kota Banda Aceh, namun memang waktu menuntut saya untuk meninggalkan tanah Gayo, yang masih merupakan kab. Aceh tengah , Aceh pula. namun baru di tahun 2017lah sepulang merantau panjang baru saya bisa sampai di Banda Aceh yang merupakan kota dari provinsi saya tinggal pula.



jadi kira-kira sahabat  Travel, kapan ini bisa ngisi Instagram dengan foto Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh ?.. sholat didalamnya ( bagi yang muslim ) dan minum kopi di kotanya ?

Learn more »