Anak Rantau #2 : Cita-cita Seorang Anak


Banyak hal yang di dapat dari mentari saat terbit, dan juga banyak hal yang aku dapatkan saat air sungai mengalir dengan derasnya pagi itu, sosok mungil dengan kemandiriannya berjalan di tepi sungai bersama seorang abang yang sayang padanya, cerita ini bukan untuk orang lain dan cerita ini juga bukan ceritanya orang lain, cerita ini adalah ceritaku. banyak hal yang sekarang aku pelajari dari perjalananku sebagai anak-anak yang normal pastinya.

entah apa yang aku fikirkan saat itu?... aku tak pernah tau tujuan aku hidup saat itu, aku tak punya cita-cita yang begitu sama dengan hati nurani, inilah yang membuat hidupku tak begitu terarah hingga saat ini, dulu semasa kecil banyak orang yang bercita-cita besar, tabi dengan aku yang memiliki cita-cita yang kalau aku fikirkan saat ini adalah sebuah cita-cita yang sebenarnya tak perlu terwujut. "tau apa cita-cita itu?"... kernet bus.
banyak anak-anak ingin jadi pilot dan ingin jadi dokter, tapi aku saat di tanya " apa cita-cita kamu ?" oleh seorang guru yang mengajar aku menjawab dengan ringannya " kernet bus pak" ini benar adanya, karna memang mungkin ini semua terfikirkan akibat dari seringnya melihat kernet bus saat aku pergi kekota dari kampung halamanku yang jauh dari peradaban orang-orang elit.

namun itulah anak-anak , mungkin kalian juga pernah merasakan apa yang tian fikirkan?...atau mungkin hanya Aku saja yang memikirkan hal semacam itu,
kenapa cita-citaku seperti itu ?..
bukan tanpa alasan seorang anak memiliki cita-cita, memang pada masa itu Tian di Aceh dan saat pergi kekota melihat seorang kernet Bus terasa keren dan terasa kayaknya banyak cewek yang suka, dan ternyata memang pada masa itu memang iya, masa yang tian alami seperti itu entah masa-masa kalian, maklum tian orang hidup lama di desa yang bisa di bilang pedalaman dan desa yang terletak di atas awan desa yang memiliki badai setiap harinya, desa penghasil kopi yang sampai saat ini menjadi idola Tian saat Galau, dan kopi yang menemani saat Tian menuliskan ini. " kopi peneman hidup penghibur galau ".

kembali keawal cerita dan kembali lagi kepulau jawa, masa kecil adalah masa yang tak pernah aku fikirkan untuk melakukan sesuatu, mencuri mangga, mencuri jambu adalah hal wajar bagi anak-anak kecil, itulah yang menjadikan anak kecil lebih jantan di bandingkan dengan orang dewasa yang banyak mikir dengan apa yang akan di lakukan, semisal saja kalian menyuakai seorang wanita atau sebaliknya, kalau orang berfikir seperti anak kecil pastilah akan jadi sesosok Pejantan tangguh yang memang itulah jiwa seseorang yang harusnya di lakukan, yang penting dalam lingkup positif karna memang beda dengan anak-anak yang belum bisa berfikir dengan baik.

aku memang di lahirkan saat itu dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan alias cuma pas buat makan, memaknai pas pasan juga harus berhati-hati, kadang ada orang yang pas-pasan. cuma pas buat beli mobil, cuma pas bisa beli ninja, cuma pas buat keseharian poya-poya, makanya berhati-hatilah dengan kata-kata pas pasan. kenapa malah jadi cerita tentang pas pasan...?
yang pasti hidup ini adalah sebuah anugrah buat siapa saja yang terlahir di dunia ini.

hiruk piuk dunia ini berbeda dengan semasa aku masih hidup dengan usia 5 tahun lalu, yang pasti sekarang lebih bisa berfikir bahwa dunia ini menantang orang buat hidup, menantang orang buat tetap menjadi yang nomer satu buat orang-orang yang di cintainya.

to be contineu

0 komentar: