Catatan Di Tengah Hujan

Hujan oh hujan... malam ini kau benar-benar mengguyur seluruh bumi
hujan malam ini kau benar-benar membuatku merasakan dingin yang berlebihan, berjalannya waktu itu akan selalu menangkar di teluk itu
di bagian kepedihan yang memang tak pernah aku hentikan rasanya hingga sakit dan sakit saja yang aku rasakan, apa ini?

berangkat dari kegelisahan hingga menjadi gelisah yang sebenarnya, dunia Tulisku seakan terhenti dan tak tau apa yang akan aku tulis?
Tian.Web.iD yang sebenarnya aku buat untuk ceritaku yang ceria, namun sekarang telah berbeda dari rencana sebelumnya karna memang hidup merubah semuanya.
tak ada yang tau apa yang akan terjadi di kemudian hari, 
tak pernah ada yang tau esok aku akan berlari atau aku akan sakit hati?

Tuhan, benar-benar ini sebuah rasa yang memang Sakit pada waktunya.
Tuhan, tolong aku dari sedikit rintihan tulisan blog ini.
tak ada yang bisa aku curhatkan, karna memang semua sudah aku tuliskan,
andaikan malam ini tak ada hujan mungkin duniaku adalah mentari,
karna malam ini adalah hujan duniaku benar benar seakan banjir dengan hujan racun dan air keras.

Gerobak Nasi goreng dan mie ayam yang terlihat di depan kacapun seakan menunjukkan lilin yang kian memadam karna hujan,
helm yang tadinya diam di tempat harus aku basahi dengan sampo karna memang kegelisahan ini benar-benar di tengah hujan kawan.
apakah aku harus memperkenalkan bahwa aku ini adalah penyebab hujan yang sebenarnya,
ataukah memang hujan ini hanyalah lintasan anugrah yang harus aku cermati maknanya.

hanya diam setelah banyak tertawa, kegelisahan di malam yang di temani dengan rintikan hujan
dan lagu kangen band yang sebenarnya kurang aku suka namun malam ini benar-benar memberikan inspirasi yang beda dan memberikan sebuah kegelisahan yang menjadi tulisan dinding duniaku di lain alam ini.

empat orang namun terasa hanya aku yang diam hujan..
hujan karna layar yang menunjukkan arah 23 : 33 ini memberikan kedipan berbeda, memberikan kata yang tak pernah aku tulis sebelumnya.
Rintik hujanpun masih tetap saja turun dengan derasnya, sedangkan detik jam yang menempel di angka 11 masih tetap saja diam tak berdaya selama berbula bulan di dinding yang tak punya warna lain selain warna putih namun tak indah ini.

Tumpukan kardus mengelilingi sosok nyawa yang memulihkan Hujan, di tengah malam Jum'at kawan,
Hujan bersamamu aku bisa terlelap dan bersamamu aku bisa terdiam.

0 komentar: