Masa SD di Tanah Baru

9 tahun telah berlalu dan masa-masa itu masih terkenang di benakku sampai saat ini, tau kenapa kadang sebuah kenangan susah di lupakan? karna kenangan itu berkesan atau unik, itu kalau menurut Tian. nah kenangan paling berkesan sampai saat ini ya ... masa masa Sekolah Dasar (SD), sekolah yang indah, sekolah di atas gunung dan sekolah yang bentuknya juga beda. pengen tau sekolah tian dulu simak berikut kita akan menuju ke TKP.

1. Masjid




Masjid selain tempat ibadah juga   di jadikan sebagai Sekalah Dasar, maklum sebagai orang yang Transmigrasi di tahun 1996 di Aceh tengah kami harus hidup dengan apa adanya, dan memang sebelumnya kami juga tak punya apa-apa. bersyukur saja pemerintahan pada waktu itu memberangkatkan keluargaku ke Aceh jadi sampai sekarang dengan lantaran jalan itu aku bisa kuliah sampai sekarang. 

Mengingat masa-masa itu aku jadi sedikit haru dan sedikit bahagia mengenangnya karna ternyata hidupku bukan hanya senang tapi senang dengan sebuah perjuangan. itulah yang membuatku kokoh di saat pisah dengan orang tua dan di saat aku tak punya uangpun aku masih bisa hidup karna pengalaman hidup yang panjang dan lebar.

Kembali ke sekolah dasarku yang berada di masjid, masa-masa itu berlalu bukan dalam waktu yang singkat tapi tiga tahun berlalu dengan keterbatasan segala hal, di mulai dari guru yang hanya satu sampai kapur kalau sekolah kami sebagai murid yang mencarinya di pinggir jalan dengan lempung (tanah liat berwarna putih di sepanjang jalan ). Jangankan sepatu seragampun kami pakai seadanya sepatu bisa kami gantikan dengan sandal yang warnanya beda satu merah dan satu biru atau sandal yang sudah di sambung puluhan kali dengan tali Rafia. itu benar nyata apa adanya.

Pak Jaruki, adalah salah seorang guru yang sudah mengabdi walaupun gajinya sangat kurang dari cukup alias tidak cukup sama sekali dan alhamdullah setelah belasan tahun mengajar dengan gaji yang tak sepadan dengan perjuangannya di usianya yang sudah tia beliau sekarang sudah menjadi pegawai negri sangat miris sekali dan sayapun berbahagia akhirnya apa yang saya inginkan buat guru saya tercapai.

Mata pelajaran PPKN , B. Indonesia, Matematika dan semyanya hanya termuat dalam satu buku lusuh dan pensil dengan penghapus menggunakan karet berada di atasnya atau bekas potongan sandal, bahkan dalam hitungan matematikapun kami membawa lidi atau kayu kecil dari rumah buat menghitung, ini juga saya alami dan nyata adanya. mungkin sekarang beda dengan yang dulu tapi tahun kemaren Tian sempat pulang berlibur kekampung halaman dan hasilnya gak terlalu jauh beda ibaratnya setiap tahunnya hanya berkembang 2-3% saja.

2. SDN Meurah Pupuk


Inilah sekolahan yang meluluskanku sekolahan yang juga membuat Ijazaku bernamakan SDN Meurah Pupuk, sekolah yang di mulai setelah tiga tahun aku sekolah di masjid yang kecil tapi sangat mengenang. Dari sinilah aku mulai merambah dunia pendidikan yang serba kurang dan menggambarkan betapa ketertinggalannya sekolahan di pelosok desaku setelah aku sekolah SMA di Jawa. Betapa kita sama-sama Indonesia Namun sila ke-5 belum bisa kita temui secara merata di Negri ini.

Hanya ada 3 kelas yang setiap runagannya di bagi menjadi dua dengan sekat papan, kelas satu dan kelas 2 satu kelas begitu selanjutnya sampai kelas enam, gurupun bisa terbilang terbatas karna hanya ada empat Guru itupun kadang tak datang di karenakan mencari uang Tambahan untuk mencukupi hidupnya dan keluarganya. karna gaji tak sanggup membuat nyawanya berlanjut kalau tidak bertani atau sekedar menjadi buruh pemanen Kopi, inilah guru disana, dan Alhamdulillah mungkin tahun ini sudah berbeda.

Semasa kecilku sama sekali tak mengenal seragam Pramuka, karna seragam Merah putihpun belum tentu semua siswa punya, yang penting datang sekolah walaupun hanya dengan menggunakan sandal jepit, atau sekolah dengan membawa bekal makanan yang rasanya lebih enak dari Ayam bakar, tau apa itu cuma segumpal nasi dan Sambal dengan sedikit cabe lebih banyak garamnya serta Air Putih di botol Aqua yang warnanya tak jelas sama sekali. Alhamdullah semua bisa di lalui dengan bahagia dan semua bisa berlalu tanpa ada keluahan. Cuma sekarang Jika mengenang masa-masa itu jadi terbesit bahwa sesuatu harus ada yang berubah dan aku harus melakukan sesuatu untuk orang-orang sepertiku dulu. Andai aku diberi kesempatan, dan andai Tidak aku akan mencari kesempatan semacam itu.




Inilah tempat dimana saya hidup dan mencari sesosok perjalanan yang sampai sekarang belum aku temukan, dari sanalah aku dantang dan tak ada yang perlu aku sombongkan, karna memang tak ada yang bisa aku sombongkan.


6 komentar:

  1. Semoga kondisi di Aceh sana akan lebih baik di masa mendatang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Sekolahku waktu SD dulu udah gak terpakai dan gak terawat sekarang...

    BalasHapus
  4. @backpackerborneo.com

    Emang Kenapa Gan ? kok udah gak di rawat ?

    BalasHapus
  5. keren ya.. Lanjutkan perjuanganmu.. Semoga mimpimu dapat tercapai..

    BalasHapus