MENCARI AIR TERJUN DI HUTAN RIMBA


Mendapat cerita dari warga yang sempat mencari ikan hingga masuk kedalam hutan, dia bercerita bahwa hutan perbatasan antara kampung saya ( Merah jernang, Atulintang, Aceh Tengah ) yang merupakan kampung perbatasan langsung dengan kecamatan Linge, dia menemukan sebuah Air terjun kala itu, walaupun rute yang di tempuh tak diingatnya lagi. 


Selain hutan yang masih benar-benar rimba, banyak terbesit kabar juga bahwa banyak yang mendengar suara harimau, bahkan sempat ada yang melihatnya membawa anak. Selain binatang buas seperti Beruang dan banyak monyet yang tentunya sering meramaikan hutan dengan nyanyiannya, walaupun saya sadar benar keberadaan hutan kian hari kian menyempit menjadi perkebunan kopi dan penebangan liar yang semakin mebabi buta. 


Dari warga yang pernah menelusuri suangi untuk mencari ikan tersebut, saya dan beberapa teman saya mendapatkan banyak cerita dari mulai kemistisan sampai keindahan yang di suguhkan oleh pesona alam yang tak begitu jauh dari kampung kami, hanya saja perjuangan memang harus ada, masuk dalam hutan dan siap setiap saat bila ada sesuatu yang tak dinginkan kami harus siap menanggung resikonya. 



Salah seorang warga yang bercerita bahwa di hutan perbatasan itu, ada dua air terjun yang jaraknya tak begitu jauh. Air terjun pertama tidak terlalu tinggi hanya sekitar tujuh sampai sepuluh meter saja, sedangkan satu kilo meter kurang lebih beririkutnya ada air terjun yang tingginya mencapai lima puluh meter lebih dan keberadaannya di dalam hutan yang entah dimana, katanya pula dengan di kelilingi dengan bebatuan dan di salah satu batu terdapat telapak kaki yang membekas.



Setelah masuk dalam hutan dan melakukan perjalanan sekitar hampir satu jam, kami menemukan sebuah suangai, sebuah sungai yang tak terlalu besar dengan aliran yang begitu jernih tanpa ada bau dan saya rasa ini melebihi sehatnya minuman kemasan, susana tenang damai dan di iringi dengan berbagai macam suara penghuninya dari mulai burung hingga monyet yang suaranya makin mengeras.


Sesampainya di sungaipun kami masih bingung, harus menelusuri kebawah atau keatas, tapi menurut cerita warga yang pernah sampai sana, bahwa ada persimpangan air sebelum sampai di air terjun kedua dan sungai mulai membesar karna gabungan dari dua sungai, begitu katanya. Degan cerita itu saya dan ke empat teman saya memutuskan untuk menelusuri kebawah dan mencari air terjun pertama yang tingginya tak kurang lebih sepulum meter itu.


Ada salah satu jalur yang memang sangat sulit, bahkan kami hampir menyerah dan kembali saja, namun kami mencari cara bagaimana agar sampai di bawah air terjun yang pertama, salah satu cara terbaik adalah nekat menuruni jurang yang tingginya kurang lebih sama dengan tinggi air terjun itu, dengan susah payah dan tanpa membawa tali selayaknya para petualang, kami hanya menggunakan akar-akar dan pohon-pohon kecil saja untuk pegangan agar sampai di air terjun yang pertama dan kami menemukan itu. 



Akhirnya dengan susah payah kami bisa menikmati indahnya dan kenyamanan yang ditampilkan oleh air terjun pertama, walaupun katanya air terjun pertama ini, belum ada apa-apanya dengan air terjun yang kedua, yang hanya terlihat seperti kabut, dan cerita itu membuat saya dan teman-teman menjadi lebih penasaran dimana keberadaannya, yang pasti jika menurut cerita tak jauh lagi hanya sekitar satu kilo meter saja sudah sampai di air terjun tujuan kami itu.

Tapi lagi-lagi satu kilo meter untuk berjalan di hutan rimba itu bukan hal yang mudah, selain banyak pohon yang menutupi dan duri rotan yang bertebaran juga banyak jurang yang harus membuat kami lebih waspada akan hal yang tak diiginkan.


Setelah beristirahat minum dan makan pisang yang merupakan bekal kami satu-satunya, kami melanjutkan perjalanan untuk menuju air terjun yang kedua atau air terjun utama tujuan kami. Namun, dalam perjalanan kami merasakan banyak hal aneh, dari mendengar suara suara semacam binatang buas dan jejak-jejak entah itu binatang atau apalah namun yang pasti itu bukan bekas dari manusia. Bahkan salah satu seorang teman mengatakan bulukuduknya merinding dan merasakan hal yang sama sekali tak enak.


Akhirnya dengan alasan keselamatan lebih utama, kami memutuskan untuk pulang dengan membuat jalur baru, jalur yang kami lewati sebelumnya rasanya sangat sulit jika kami harus panjat tebing tanpa peralatan seperti tambang dan sejenisnya. Namun dalam perjalanan kami sempat tersesat dan hanya berputar-putar di tempat yang sama, hanya pepohonan dan suara burung serta ramainya monyet saja yang terdengar. Ah saya sempat takut juga jika – jika kita tersesat dan tak bisa pulang, namun dengan semangat tinggi dan dengan Insting yang kuat pokoknya jalan kekanan jangan kekiri dan utnunglah kami sampai di perkebunan warga kembali.

Begitulah cerita pencarian air terjun yang sebenarnya masih belum ketemu juga. Saya benar-benar penasaran dengan air terjun yang tinginya lebih dari lima puluh meter itu, serta penasaran dengan telapak manusia yang berada di atas batu, saya bertekat lain kali saya harus sampai di tempat itu dengan peralatan dan perbekalan yang agak seius agar bisa sampai di tempat dengan selamat.

Tunggu saja ceritanya, maaf juga jika blog ini jarang Update , jika boleh curhat saya sekarang adalah seorang petani kopi yang berada di dataran tinggi Gayo dan sinyal untuk upload ke blog sangat tidak mungkin, hanya jika saya kekota saja saya bisa upload file cerita semacam ini. Itupun jika tak ada kepentingan lain. Dan untuk bisa update cerita perjalanannya kamu bisa kunjungi saja Instgram saya di @bolanggayo

Serta buat beberapa media yang menginginkan saya mengirimkan cerita perjalananan mohon maaf untuk saat ini saya sangat kesulitan dalam soal pengiriman file, terimakasih

Bersambung......

4 komentar:

  1. wooow, perjalanan sulit untuk melihata ir terjun, pastinya bahagia ya setelah sampai

    BalasHapus
  2. sepanjang pengalaman saya, kalo ke air terjun mesti pake perjuangan dulu ya,
    perasaan gak ada gitu yg dket sm parkiran kendaraan wkwkwk

    BalasHapus