Berkunjung Ke Kebun Kopi Pak Jaini

Jum’at pagi, saya di ajak teman saya untuk wawancara di salah satu orang yang sudah bisa di sebut tokoh dalam perkopian di dataran tinggi Gayo, Pak Jaini atau orang sering memanggilnya dengan pak Zaini hanya beda huruf J dan Z saja sebenarnya. Seorang yang pernah sampai di Istana Negara karna membawa nama petani kopi.




Sebenarnya sudah lama saya tau tentang pak Jaini di berbagai media dan omongan orang di sekeliling, karna memang kampung kami saja  tak jauh, bahkan terlihat dari kampung saya yang ketinggiannya -+ 1880 mdpl, kampung pak jaini yang berada di desa kekelip satu kecamatan dengan saya ini Nampak terlihat di bawah, dan jika melihat kampung saya dari kebun kopi pak Jaini maka akan terlihat ternyata saya berada di atas gunung.

Namun baru kali ini saya bisa benar-benar sampai di kebun kopi pak Jaini yang memiliki tempat pelatihan dan banyak di kunjungi wisatawan dan pecinta kopi dari yang local sampai International. Itupun karna satu alasan mengantar teman saya untuk wawancara sebuah film documentary tentang kopi dan petani sukses didalamnya. Karna perlu kita tau makna sukses bukan hanya berbentuk materi saja, namun tentang bagaimana dan apa  kontribusi kita terhadap lingkungan sekitar.



Sesampainya di tempat pak jaini kami harus merasakan sedikit kekecewaan karna pak jaini sedang berada di medan untuk berbagai keperluan pelatihan, begitu tutur anaknya yang masih mengeyam bangku kuliah di semester 4, kepulangannyapun tak jelas entah kapan, bahkan Ibunya saja sudah seminggu ini menyusul.

Untung saja ada anaknya yang ramah dan menyambut kami dengan berbagai cerita tentang sang ayah dan tentang kopi pastinya, karna bagaimanapun anak pastilah banyak tau tentang ayah dan berbagai macam cerita kopi yang terkdang mau tak mau memang harus di akui pahitnya.



Kami di ajak kesebuah Gazebo yang berada di kebun. dulu sering saya lihat di internet dan media social, Nampak indah dan banyak para wisatawan yang datang. Begitu sampai di Gazebo saya merasa kaget, karna gambar yang saya lihat di media ternyata kini berubah total, tak terawat dan lusuh, walaupun foto-foto sebuah penghargaan dari yang local sampai international masih terpasang di dalamnya.



“ Ada banyak hal yang membuat semua yang sudah berjalan menjadi sekan terhenti begitu saja”  begitu tutur sanag anak pak Jaini saat berbincang dengan teman saya yang rencananya akan membuat film itu, tak banyak yang bisa di ceritakan sebab kenapa kebun yang dulu ramai kini menjadi sepi. Yang pasti banyak kejadian tak mengenakkan berada di dalamnya. Tapi ya sudahlah keinginan kami untuk membuat film harus berganti tema dari tema sebelumnya, karna selain kami juga banyak orang datang untuk wawancara dan mendapati bapak ternyata tak ada di rumah, begitu katanya.



Walau begitu, setidaknya kami mendapatkan banyak cerita dari anak pak Jaini, asik dan perlu di jadikan bahan hidup sebagai petani kopi, karna saya tau kopi itu ada manisnya jika di tambah gula, ada pahitnya dan ada pula kadar asamnya.



Follow Instagram : @bolanggayo

2 komentar:

  1. Kenapa ya kebun kopi nya Sekarang sepi dari wisatawan? Kebunnya sendiri sudah tidak menghasilkan atau mereka berhenti merawatnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hanya anaknya yang masih di rumah, sedangkan ayahnya yang merawat sekarang sudah sibuk begitu kata anaknya, tapi entahlah :)

      Hapus