Pagi di Kampungku Merah Jernang.


Dingin menusuk tulang hingga bagian terdalam, tak luput kabut juga lebih sering menyelimuti kampungku yang ketinggiannya kurang lebih 1880 meter di atas permukaan laut. Kampung berada di dataran tinggi Gayo Aceh Tengah, kampung yang di isi oleh mayoritas pendatang Transmigrasi sejak tahun 1997.

Pun kampung yang mayoritas di isi oleh petani kopi Gayo, walaupun sebagian sudah mulai beralih atau bahkan membuat perkebunan tanaman muda semisal sayur – sayuran dan sejenisnya, namun kopi masih menjadi komoditas utamanya.

Kampung yang terletak di punggung bukit barisan ini sangat indah, bahkan bisa di katakana indah pake banget, hampir setiap pagi jika cuaca cerah saya selalu saja menyempatkan ngopi di luar rumah sembari melihat pemandangan yang sungguh aduhai, tak perlu pergi jauh-jauh cukup keluar rumah sembari berjemur dan di temani kopi hitam hasil racikan sendiri dari kebun sendiri dan diminum sendiri pula.

Saya selalu takjub dengan ciptaan Tuhan dengan segala kesempurnaan dan keindahannya. Suara burung berkicau menambah kehangatan dan ketengan bersama mentari yang muncul malu-malu. Sungguh nikmat yang tiada terkira. Saya juga yakin bahkan orang kota sangat sulit untuk bisa merasakan ketenangan dan kenikmatan semacam ini, apalagi kenikmatan dan ketengan ini bisa dinikmati setiap waktu, sebagai petani saya selalu bersyukur karna pekerjaan ini ternyata amat sangat membuat saya hidup dengan cara saya sendiri tanpa ada yang mengatur dan memaksakan kehendak, yah begitulah saya yang selalu takut berada di titik tak nyaman. Tapi begitulah pilihan tak ada orang yang bisa saling cekal atas pilihan hidupnya.

Kampung Merah Jernang berada di kecamatan Atulintang, kabupaten Aceh tengah, jika kamu hendak berkunjung, jalan yang di lalui sudah aspal halus dan bagus, jangan takut becek dan kehabisan bensin, karna banyak kedai ( warung yang juga menjual sembako ).

Begitulah sedikit tentang kampung saya yang bisa saya ceritakan, lain kali akan saya sambung lebih panjang. Beginilah cara saya mencintai Gayo, walaupun bukan berasal dari suku asli, namun saya cinta kepada Gayo dan kopinya, dan inilah cara terkecil yang bisa saya lakukan untuk mengenalkan Gayo kehalayak umum. Dengan blog dan tulisan yang entah bisa di fahami atau tidaknya.


Jangan lupa follow Instagram : @bolanggayo

0 komentar: