Tradisi Bakar-Bakar ayam di Momen Hari Besar di Gayo




Di dataran tinggi Gayo, bakar Ayam, ikan, atau sekedar makan-makan di tempat wisata seakan sudah menjadi sebuah tradisi di hari besar Islam seperti Idul Fitri atau Idul Adha. Hari besar merupakan hari berlibur dan berkumpulnya keluarga atau sekedar kumpul bersama teman-teman agar sejenak menghilangkan penat yang di jalani selama ini.


sepanjang jalan dan tempat-tempat wisata terutama seperti danau Lut Tawar dan sungai-sungai di penuhi oleh sekumpulan kaluarga atau hanya kumpul bersama teman-teman saja untuk berbagi cerita dan menambahkan sebuah cerita pastinya. Ya cerita liburan sembari makan-makan dan bakaran ayam.

Liburan semacam ini tak memandang kelas sosial dari yang kelas bawah sampai kelas atas semuanya melakukan hal yang sama, yang membedakan adalah naik supra dan naik Avanza, pun jumlah yang ayam yang di bakar satu untuk semua dan semua dapat satu-satu. Mungkin hanya itu, tapi soal kebahagiaan saya rasa semuanya sama, tergantung siapa yang merasakan dan kondisi hati tentunya.
Untuk hari raya Idul Adha tahun ini, saya dan teman-teman melakukan hal yang beda, saya tak ingin setiap perjalanan akan berakhir di tempat yang sama dengan kisah yang sama pula. Makanya saya memutuskan untuk mencari tempat baru, sebenarnya tempat tersebut sudah tak asing lagi kami, karna hampir setiap hari Jum’at saya dan teman-teman selalu meng-Otewe-kan diri berangkat mancing di tempat tersebut.


Jika biasanya saya / kami melakukan bakar ayam di tempat yang ramai, maka kali ini kami melakukannya di tempat yang sepi, terkadang ramai jika kumpulan kerbau dan sapi lewat. Sebuah sungai yang berada di sekitar hutan pinus desa Gading, kecamatan Linge, menjadi tujuan bakar ayam di Idul Adha tahun ini.


Selain itu tempatnya juga tak jauh dari desa kami, hanya perjalanan sekitar 15 – 20 menit saja, soal pemandangan jangan di tanya lagi, bukit, kabut dan pohon pinus menjadi keunggulan dan kenyamanan buat siapa saja yang melewatinya, karna katanya “ jika kamu sedang galau maka... berdiamlah di bawah pohon maka kamu akan merasakan kenyamanan “.  bagaimana tak nyaman ?... kami saja selalu berada di bawah pohon setiap perjalanan.

Hanya satu yang menjadi kedala, banyak pacet ( lintah penghisap darah ) itu yang kami temui sewaktu mancing, pun kami temui saat bakar-bakar ayam kemaren, sungguh geli dan menakutkan.
Jadi, kira-kira seperti itulah ceritanya, lain kali saya akan ceritakan lebih panjang jika tak lupa. Dan soal membuat api disamping sungai yang sudah hidup namun hujan tiba-tiba saja turun bisa di baca di rubrik #Otewe-nya www.petanikopi.com

Fans Page : Bolang Gayo

Instagram : @bolanggayo

6 komentar:

  1. wah nikmat ya mas ,.. ini baru makan besar ,, makan bareng temen temen ....

    BalasHapus
  2. Tradisi yang asyik nih makan besar saat hari raya. Tambah seru lagi makan besarnya dialihkan ke tempat terbuka pinggir sungai gitu. ^^

    BalasHapus
  3. duhh bakar ayam di alam memang yahud..

    tapi itu pacetnya...

    *tebar garam sepanjang jalan*

    BalasHapus
    Balasan
    1. waduh mau habis garam berapa kak :)

      Hapus